Pengaruh Inflasi terhadap
Pengangguran dan Perekonomian Indonesia
Inflasi merupakan suatu proses
kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Sedangkan inflasi
adalah persentase kenaikan harga-harga barang dalam periode waktu tertentu.
Semakin tingginya inflasi yang terjadi dapat berakibat pada pertumbuhan ekonomi
yang menurun, sehingga akan terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Semua
negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, inflasi
yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik
buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang
perekonomiannya baik, inflasi yang terjadi berkisar antara 2-4% per tahun.
Dengan persentase sebesar itu, dapat dikatakan inflasi yang rendah. Sedangkan
inflasi yang tinggi berkisar lebih dari 30%. Namun demikian ada negara yang menghadap
inflasi yang lebih serius atau sangat tinggi, misalnya di Indonesia pada tahun
1966 dengan inflasi 650%.
Inflasi yang sangat tinggi tersebut disebut hiperinflasi (hyperinflation). Jika suatu negara mengalami hiperinflasi bisa dipastikan jumlah pengangguran di negara tersebut akan bertambah secara drastis. Karena dengan kenaikan harga-harga di semua sektor, maka perusahaan-perusahaan akan mengambil kebijakan mengurangi biaya untuk memproduksi barang atau jasa dengan cara mengurangi pegawai atau tenaga kerja. Akibatnya, angka pengangguran yang tinggi tidak dapat dihindari dan dapat membuat perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran. Oleh karena itu, inflasi sangat berkaitan erat dengan pengangguran.
Inflasi yang sangat tinggi tersebut disebut hiperinflasi (hyperinflation). Jika suatu negara mengalami hiperinflasi bisa dipastikan jumlah pengangguran di negara tersebut akan bertambah secara drastis. Karena dengan kenaikan harga-harga di semua sektor, maka perusahaan-perusahaan akan mengambil kebijakan mengurangi biaya untuk memproduksi barang atau jasa dengan cara mengurangi pegawai atau tenaga kerja. Akibatnya, angka pengangguran yang tinggi tidak dapat dihindari dan dapat membuat perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran. Oleh karena itu, inflasi sangat berkaitan erat dengan pengangguran.
Berdasarkan keparahannya inflasi
juga dapat dibedakan :
1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% /
tahun)
3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% /
tahun)
4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)
Pembangunan ekonomi
adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahanperubahan besar
dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti
halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan
pemberantasan kemiskinan mutlak (Todaro, 1988). Pertumbuhan ekonomi suatu negara
atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa
perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (Amir, 2007).
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu
keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.
Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan
konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan
pendapatan setiap tahun (Tambunan, 2009). Selain dari sisi permintaan
(konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan
pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa
diikuti dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam
pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang
selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan
kemiskinan (Tambunan, 2009). Berdasarkan tabel berikut dapat dilihat pengangguran
di Indonesia yang dari tahun ketahun bertambah terus. Pengangguran meningkat
melebihi 8% per tahun yang mengindikasikan bertambahnya jumlah pengangguran.
Bahkan pada tahun 2006, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 10,27%
dengan jumlah pengangguran sebesar 10.932.000 jiwa (Badan Pusat Statistik Indonesia,
1998-2007).
Tabel:
Persentase Pengangguran, Pesentase Inflasi, Pertumbuhan Upah, Pertumbuhan
Ekonomi,
dan Pertumbuhan Angkatan Kerja Periode 10 Tahun (1998-2007)
Tahun
|
Pengangguran
(%)
|
Inflasi
(%)
|
Pertumbuhan
Upah
(%)
|
Pertumbuhan
Ekonomi
(%)
|
Pertumbuhan
angkatan
kerja
(%)
|
1998
|
5.46
|
77.63
|
-
|
-
|
-
|
1999
|
6.36
|
2.01
|
18.96
|
0.79
|
2.27
|
2000
|
6.08
|
9.4
|
22.94
|
5.35
|
8.47
|
2001
|
8.01
|
12.6
|
35.31
|
3.64
|
3.3
|
2002
|
9.06
|
10.03
|
18.09
|
4.50
|
1.99
|
2003
|
9.51
|
5.06
|
14.43
|
4.78
|
-0.45
|
2004
|
9.86
|
6.4
|
15
|
5.03
|
3.64
|
2005
|
10.26
|
17.11
|
11.2
|
5.69
|
1.75
|
2006
|
10.28
|
6.6
|
13.54
|
5.50
|
0.55
|
2007
|
9.11
|
11.73
|
11.73
|
6.35
|
3.33
|
Sumber:
Statistik Tahunan Indonesia, BPS, 1998-2007
Berdasarkan tabel dapat diketahui
hubungan pertumbuhan angkatan kerja dengan pengangguran yang terjadi di
Indonesia. Pada tabel tersebut dapat dilihat hubungan yang cenderung searah
atau positif. Walaupun pertumbuhan angkatan kerja cenderung bersifat fluktuatif
dilihat dari persentase pertumbuhannya, tetapi jumlah angkatan kerja di
Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun tersebut (1998-2007), hal ini
diikuti dengan kenaikan pengangguran yang mengindikasikan kenaikan jumlah
pengangguran sehingga terdapat kecenderungan yang searah dengan jumlah
pengangguran. Fenomena ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Amir (2007),
bahwa peningkatan angkatan kerja di Indonesia tidak diimbangi dengan perluasan lapangan
kerja, sehingga pengangguran pun bertambah seiring penambahan angkatan kerja. Menurut
Sumitro (1994), masalah pengangguran secara terbuka maupun terselubung, menjadi
pokok permasalahan dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang. Berhasil
atau tidaknya suatu usaha untuk menanggulangi masalah besar ini akan
mempengaruhi kestabilan sosial politik dalam kehidupan masyarakat dan
kontinuitas dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
Pengertian Inflasi
Inflasi dapat didefinisikan
sebagai proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekomomian.
Kenaikan satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan
itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lain. Tingkat inflasi (persentase
pertambahan kenaikan harga) berbeda dari satu periode ke periode lainnya, dan berbeda
pula dari satu negara ke negara lain kenaikan harga diakibatkan oleh banyak
faktor. Laju inflasi dapat dibedakan antara satu negara dengan negara yang lain
atau satu negara untuk waktu yang berbeda. Menurut Nopirin (2000:27), atas
dasar besarnya laju inflasi, inflasi dapat
dibagi ke dalam tiga kategori,
yakni:
1. Inflasi Merayap (Creeping
Inflation), biasanya creeping inflation ditandai dengan laju inflasi rendah
(kurang dari 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat, dengan
presentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
2. Inflasi Menengah (Galloping
Inflation), inflasi menengah ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar
(biasanya double digit atau bahkan triple digit) dan kadang kala berjalan dalam
waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Artinya,
harga-harga minggu atau bulan ini lebih tinggi dari minggu atau bulan lalu dan
seterusnya. Efeknya terhadap perekonomian lebih berat dari pada inflasi merayap.
3. Inflasi Tinggi (Hyperinflation),
inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah akibatnya. Harga-harga naik
sampai 5 atau 6 kali. Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang.
Nilai uang merosot dengan tajam sehingga ingin ditukar dengan barang.
Perputaran uang makin cepat, harga naik secara akselerasi. Biasanya keadaan ini
timbul apabila pemerintah mengalami struktur anggaran belanja (misalnya timbul
akibat perang) yang dibiayai atau ditutup dengan mencetak uang.
Pengangguran
Pengangguran merupakan suatu
ukuran yang dilakukan jika seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka
sedang melakukan usaha secara aktif dalam empat minggu terakhir untuk mencari
pekerjaan (Kaufman dan Hotchkiss,1999). Pengangguran merupakan suatu keadaan di
mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan
tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan tersebut (Sukirno, 1994).
Pengangguran dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan pada pasar tenaga
kerja. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi
jumlah tenaga kerja yang diminta. Arsyad 1997, menyatakan bahwa ada hubungan
yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Bagi
sebagian besar masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya
part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Masyarakat
yang bekerja dengan bayaran tetap di pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara
kelompok masyarakat kelas menengah keatas. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan
adalah miskin, sedangkan yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Karena kadangkala
ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan
yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka
menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka
bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu
masalah keuangan mereka. Orangorang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi
belum tentu miskin. Sama juga halnya adalah, banyaknya induvidu yang mungkin
bekerja secara penuh per hari, tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit.
Pengangguran
dibedakan atas tiga jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya, antara lain:
1. friksional, yaitu pengangguran
yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan
mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Pengangguran
friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya
kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan
pembuka lamaran pekerjaan.
2. Pengangguran struktural, yaitu
pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian
seperti kemerosotan beberapa faktor produksi sehingga kegiatan produksi menurun
dan pekerja diberhentikan. Pengangguran struktural adalah keadaan di mana
penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan
yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu
daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas
yang lebih baik dari sebelumnya.
3. Pengangguran konjungtur, yaitu
pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku
sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat.
Hubungan Inflasi Terhadap Jumlah
Pengangguran
Salah satu peristiwa moneter yang
sering kali dijumpai di hampir tiap negara di dunia adalah Inflasi. (Salvatore,
2007) menyatakan bahwa definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari
harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu
atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut
meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga
barang-barang lain.
Kebijakan Pemerintah Dalam
Mengatasi Inflasi Dan Pengangguran
Permasalahan-permasalahan ekonomi
seperti inflasi dan pengangguran tentunya akan mewujudkan berbagai pengaruh
buruk bagi perekonomian itu sendiri. Untuk menghindari pengaruh yang tidak baik
tersebut, diperlukan berbagai kebijakan ekonomi untuk mengatasinya. Kebijakan-kebijakan
pemerintah di bidang ekonomi terdiri atas kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.
Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal merupakan
langkah pemerintah membuat perubahan dalam bidang perpajakan dan pengeluaran
pemerintah dengan maksud untuk memengaruhi pengeluaran agregat dalam
perekonomian. Melalui kebijakan fiskal masalah pengangguran dan inflasi dapat
diatasi (Indriayu, 2009). Berikut ini adalah jenis-jenis kebijakan fiskal:
Jenis-jenis Kebijakan Fiskal
1. Kebijakan fiskal ekspansif
(expansionary fiscal policy): menaikkan belanja negara dan menurunkan tingkat
pajak netto. Kebijakan ini untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kebijakan
fiskal ekspansif dilakukan pada saat perekonomian mengalami resesi ataudepresi
dan pengangguran yang tinggi.
2. Kebijakan fiskal kontraktif
(contractionary fiskal policy): menurunkan belanja negara dan menaikkan tingkat
pajak. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan daya beli masyarakat dan
mengatasi inflasi. Berikut ini beberapa pengaruh kebijakan fiskal bagi perekonomian:
Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter merupakan
kebijakan pemerintah melalui bank sentral untuk memengaruhi penawaran uang
dalam perekonomian atau mengubah suku bunga, dengan maksud untuk memengaruhi
pengeluaran agregat. Berikut ini jenis-jenis kebijakan moneter dalam mengatasi
masalah pengangguran dan inflasi.
Jenis-jenis Kebijakan Moneter.
1. Kebijakan moneter ketat (tight
money policy) untuk mengurangi atau membatasi jumlah uang beredar. Kebijakan
ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi.
2. Kebijakan moneter longgar (easy
money policy) untuk menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk
mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan
masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.
Hubungan Antara Variabel
Hubungan yang menggambarkan
antara inflasi, upah dan \pengangguran adalah kurva Phillips. Sifat dan
keterkaitan kurva philips dalam hubungan antara variabel adalah sebagai berikut:
1. Apabila pengangguran sangat
rendah, upah semakin cepat kenaikannya.
2. Apabila pengangguran relatif
tinggi, kenaikan upah relatif lambat berlakunya.
Naiknya output agregat (jumlah
pemasukan) akan menurunkan pengangguran, dan demikian sebaliknya. Keterkaitan
hubungan negatif antara tingkat pengangguran dan tingkat harga adalah, turunnya
pengangguran, seiring pencapaian output kapasitas, menaikkan tingkat harga
menyeluruh. Kurva Phillips juga digunakan untuk menggambarkan hubungan diantara
tingkat kenaikan harga dengan pengangguran.
Sumber:
Case and Fair, 2008
Ada trade-off jangka pendek
antara inflasi dan pengangguran, namun ada faktor selain pengangguran yang juga
mempengaruhi inflasi. Membuat kebijakan jauh lebih rumit dari sekedar memilih
satu titik di sepanjang kurva yang jelas dan mulus (Case and Fair, 2008).
addapted by:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar