Senin, 06 April 2015

Pengaruh Inflasi terhadap pengangguran

Pengaruh Inflasi terhadap Pengangguran dan Perekonomian Indonesia

Inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Sedangkan inflasi adalah persentase kenaikan harga-harga barang dalam periode waktu tertentu. Semakin tingginya inflasi yang terjadi dapat berakibat pada pertumbuhan ekonomi yang menurun, sehingga akan terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Semua negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang perekonomiannya baik, inflasi yang terjadi berkisar antara 2-4% per tahun. Dengan persentase sebesar itu, dapat dikatakan inflasi yang rendah. Sedangkan inflasi yang tinggi berkisar lebih dari 30%. Namun demikian ada negara yang menghadap inflasi yang lebih serius atau sangat tinggi, misalnya di Indonesia pada tahun 1966 dengan inflasi 650%.
Inflasi yang sangat tinggi tersebut disebut hiperinflasi (hyperinflation). Jika suatu negara mengalami hiperinflasi bisa dipastikan jumlah pengangguran di negara tersebut akan bertambah secara drastis. Karena dengan kenaikan harga-harga di semua sektor, maka perusahaan-perusahaan akan mengambil kebijakan mengurangi biaya untuk memproduksi barang atau jasa dengan cara mengurangi pegawai atau tenaga kerja. Akibatnya, angka pengangguran yang tinggi tidak dapat dihindari dan dapat membuat perekonomian negara tersebut mengalami kemunduran. Oleh karena itu, inflasi sangat berkaitan erat dengan pengangguran.

Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
1.     Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
2.     Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
3.     Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
4.     Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)


Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahanperubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak (Todaro, 1988). Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (Amir, 2007). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun (Tambunan, 2009). Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa diikuti dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan (Tambunan, 2009). Berdasarkan tabel berikut dapat dilihat pengangguran di Indonesia yang dari tahun ketahun bertambah terus. Pengangguran meningkat melebihi 8% per tahun yang mengindikasikan bertambahnya jumlah pengangguran. Bahkan pada tahun 2006, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 10,27% dengan jumlah pengangguran sebesar 10.932.000 jiwa (Badan Pusat Statistik Indonesia, 1998-2007).


Tabel: Persentase Pengangguran, Pesentase Inflasi, Pertumbuhan Upah, Pertumbuhan
Ekonomi, dan Pertumbuhan Angkatan Kerja Periode 10 Tahun (1998-2007)

Tahun
Pengangguran
(%)
Inflasi
(%)
Pertumbuhan
Upah (%)
Pertumbuhan
Ekonomi (%)
Pertumbuhan angkatan
kerja (%)
1998
5.46
77.63
-
-
-
1999
6.36
2.01
18.96
0.79
2.27
2000
6.08
9.4
22.94
5.35
8.47
2001
8.01
12.6
35.31
3.64
3.3
2002
9.06
10.03
18.09
4.50
1.99
2003
9.51
5.06
14.43
4.78
-0.45
2004
9.86
6.4
15
5.03
3.64
2005
10.26
17.11
11.2
5.69
1.75
2006
10.28
6.6
13.54
5.50
0.55
2007
9.11
11.73
11.73
6.35
3.33
Sumber: Statistik Tahunan Indonesia, BPS, 1998-2007

Berdasarkan tabel dapat diketahui hubungan pertumbuhan angkatan kerja dengan pengangguran yang terjadi di Indonesia. Pada tabel tersebut dapat dilihat hubungan yang cenderung searah atau positif. Walaupun pertumbuhan angkatan kerja cenderung bersifat fluktuatif dilihat dari persentase pertumbuhannya, tetapi jumlah angkatan kerja di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun tersebut (1998-2007), hal ini diikuti dengan kenaikan pengangguran yang mengindikasikan kenaikan jumlah pengangguran sehingga terdapat kecenderungan yang searah dengan jumlah pengangguran. Fenomena ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Amir (2007), bahwa peningkatan angkatan kerja di Indonesia tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja, sehingga pengangguran pun bertambah seiring penambahan angkatan kerja. Menurut Sumitro (1994), masalah pengangguran secara terbuka maupun terselubung, menjadi pokok permasalahan dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang. Berhasil atau tidaknya suatu usaha untuk menanggulangi masalah besar ini akan mempengaruhi kestabilan sosial politik dalam kehidupan masyarakat dan kontinuitas dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.

Pengertian Inflasi

Inflasi dapat didefinisikan sebagai proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekomomian. Kenaikan satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lain. Tingkat inflasi (persentase pertambahan kenaikan harga) berbeda dari satu periode ke periode lainnya, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain kenaikan harga diakibatkan oleh banyak faktor. Laju inflasi dapat dibedakan antara satu negara dengan negara yang lain atau satu negara untuk waktu yang berbeda. Menurut Nopirin (2000:27), atas dasar besarnya laju inflasi, inflasi dapat
dibagi ke dalam tiga kategori, yakni:
1.      Inflasi Merayap (Creeping Inflation), biasanya creeping inflation ditandai dengan laju inflasi rendah (kurang dari 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat, dengan presentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.
2.      Inflasi Menengah (Galloping Inflation), inflasi menengah ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya double digit atau bahkan triple digit) dan kadang kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Artinya, harga-harga minggu atau bulan ini lebih tinggi dari minggu atau bulan lalu dan seterusnya. Efeknya terhadap perekonomian lebih berat dari pada inflasi merayap.
3.      Inflasi Tinggi (Hyperinflation), inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah akibatnya. Harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali. Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang. Nilai uang merosot dengan tajam sehingga ingin ditukar dengan barang. Perputaran uang makin cepat, harga naik secara akselerasi. Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami struktur anggaran belanja (misalnya timbul akibat perang) yang dibiayai atau ditutup dengan mencetak uang.

Pengangguran

Pengangguran merupakan suatu ukuran yang dilakukan jika seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka sedang melakukan usaha secara aktif dalam empat minggu terakhir untuk mencari pekerjaan (Kaufman dan Hotchkiss,1999). Pengangguran merupakan suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan tersebut (Sukirno, 1994). Pengangguran dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan pada pasar tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumlah tenaga kerja yang diminta. Arsyad 1997, menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Bagi sebagian besar masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin, sedangkan yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Orangorang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin. Sama juga halnya adalah, banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari, tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit.
Pengangguran dibedakan atas tiga jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya, antara lain:
1.      friksional, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan.
2.      Pengangguran struktural, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian seperti kemerosotan beberapa faktor produksi sehingga kegiatan produksi menurun dan pekerja diberhentikan. Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
3.      Pengangguran konjungtur, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat.

Hubungan Inflasi Terhadap Jumlah Pengangguran

Salah satu peristiwa moneter yang sering kali dijumpai di hampir tiap negara di dunia adalah Inflasi. (Salvatore, 2007) menyatakan bahwa definisi singkat dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain.

Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Inflasi Dan Pengangguran

Permasalahan-permasalahan ekonomi seperti inflasi dan pengangguran tentunya akan mewujudkan berbagai pengaruh buruk bagi perekonomian itu sendiri. Untuk menghindari pengaruh yang tidak baik tersebut, diperlukan berbagai kebijakan ekonomi untuk mengatasinya. Kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang ekonomi terdiri atas kebijakan fiskal dan kebijakan  moneter.

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal merupakan langkah pemerintah membuat perubahan dalam bidang perpajakan dan pengeluaran pemerintah dengan maksud untuk memengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian. Melalui kebijakan fiskal masalah pengangguran dan inflasi dapat diatasi (Indriayu, 2009). Berikut ini adalah jenis-jenis kebijakan fiskal:

Jenis-jenis Kebijakan Fiskal

1.      Kebijakan fiskal ekspansif (expansionary fiscal policy): menaikkan belanja negara dan menurunkan tingkat pajak netto. Kebijakan ini untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kebijakan fiskal ekspansif dilakukan pada saat perekonomian mengalami resesi ataudepresi dan pengangguran yang tinggi.
2.      Kebijakan fiskal kontraktif (contractionary fiskal policy): menurunkan belanja negara dan menaikkan tingkat pajak. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan daya beli masyarakat dan mengatasi inflasi. Berikut ini beberapa pengaruh kebijakan fiskal bagi perekonomian:

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter merupakan kebijakan pemerintah melalui bank sentral untuk memengaruhi penawaran uang dalam perekonomian atau mengubah suku bunga, dengan maksud untuk memengaruhi pengeluaran agregat. Berikut ini jenis-jenis kebijakan moneter dalam mengatasi masalah pengangguran dan inflasi.

Jenis-jenis Kebijakan Moneter.

1.      Kebijakan moneter ketat (tight money policy) untuk mengurangi atau membatasi jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi.
2.      Kebijakan moneter longgar (easy money policy) untuk menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi.

Hubungan Antara Variabel

Hubungan yang menggambarkan antara inflasi, upah dan \pengangguran adalah kurva Phillips. Sifat dan keterkaitan kurva philips dalam hubungan antara variabel adalah sebagai berikut:
1. Apabila pengangguran sangat rendah, upah semakin cepat kenaikannya.
2. Apabila pengangguran relatif tinggi, kenaikan upah relatif lambat berlakunya.
Naiknya output agregat (jumlah pemasukan) akan menurunkan pengangguran, dan demikian sebaliknya. Keterkaitan hubungan negatif antara tingkat pengangguran dan tingkat harga adalah, turunnya pengangguran, seiring pencapaian output kapasitas, menaikkan tingkat harga menyeluruh. Kurva Phillips juga digunakan untuk menggambarkan hubungan diantara tingkat kenaikan harga dengan pengangguran.

Sumber: Case and Fair, 2008
Ada trade-off jangka pendek antara inflasi dan pengangguran, namun ada faktor selain pengangguran yang juga mempengaruhi inflasi. Membuat kebijakan jauh lebih rumit dari sekedar memilih satu titik di sepanjang kurva yang jelas dan mulus (Case and Fair, 2008).

addapted by: 
         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar