Senin, 09 Juni 2014

Konflik Antar Suku Bangsa




Penyebab Konflik antar Etnis
            Berdasarkan tulisan dari Stefan Wolff, bahwa konflik etnis ini sebagian besar terjadi di wilayah Afrika, Asia, serta sebagian Eropa Timur. Dikatakan bahwa negara-negara Eropa Barat serta Amerika Utara tidak terpengaruh atas konflik etnis yang terjadi di dunia ini. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa konflik
tersebut terjadi di wilayah yang terbelakang secara peradaban? Belum ada jawaban atas pertanyaan ini. Jawaban yang cukup masuk akal akan pertanyaan ini adalah berdasarkan rentan waktu munculnya peradaban.
Asia dan Afrika adalah dua benua yang memiliki sejarah peradaban tertua di dunia. dan secara tidak sengaja, kedua benua ini memiliki berbagai macam etnis,ras, ataupun suku bangsa. Tentu saja hal ini tidak dapat ditemui di benua Amerika yang merupakan “peradaban baru” bentukan Eropa. Peradaban-peradaban ini sejak dahulu selalu terlibat perang suku. Celakanya, perang antar suku dan ras yang terjadi ini menyimpan dendam diantara semua pihak yang bertikai dan masih terbawa hingga kini. Dengan demikian, Wolff menyimpulkan bahwa “ethnic conflicts are based on ancient hatreds between groups fighting in them and that”. Sebagian kecil konflik yang terjadi adalah akibat isu kontemporer politik ataupun agama.
            Etnik atau suku bangsa, biasanya memiliki berbagai kebudayan yang berbeda satu dengan lainnya. Sesuatu yang dianggap baik atau sakral dari suku tertentu mungkin tidak demikian halnya bagi suku lain. Perbedaan etnis tersebut dapat menimbulkan terjadinya konflik antar etnis. Misalnya konflik etnis di Kalimantan antara suku dayak dan suku madura pendatang. Bagi suku madura pendatang bekerja adalah suatu tuntutan bagi pemenuhan hidup di perantauan. Pekerjaan yang dilakukan menebang kayu di hutan dan tempat dimana mereka menebang kayu tersebut adalah tempat yang disakralkan oleh suku dayak. Kesalah fahaman ini menyebabkan terjadinya konflik antar etnik dayak dan madura yang menelan korban banyak di antara kedua suku yang berkonflik tersebut.
            Konflik etnis adalah konflik yang terkait dengan permasalahan- permasalahan mendesak mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial di antara dua komunitas etnis atau lebih. (Brown, 1997). Konflik etnis seringkali bernuansa kekerasan, tetapi bisa juga tidak. Konflik etnis di Bosnia dan Angola memiliki dimensi kekerasan yang luar biasa besar. Sementara, permintaan warga Quebec untuk memperoleh otonomi lebih besar dari pemerintah Kanada hampir tidak memiliki dimensi kekerasan sama sekali. Banyak konflik lokal suatu masyarakat sama sekali tidak memiliki basis etnisitas. Jadi, konflik-konflik tersebut tidak bisa disebut sebagai konflik etnis. Pertempuran antara pemerintah Kamboja dengan tentara Khmer Merah tidak pernah bisa disebut sebagai konflik etnis karena hakekat konfliknya adalah persoalan ideologi, bukan persoalan etnis.
            Konflik lebih sering terjadi karena berbagai sebab sekaligus. Kadangkala antara sebab yang satu dengan yang lain tumpang tindih sehingga sulit menentukan mana sebenarnya penyebab konflik yang utama. Faturochman (2003) menyebutkan setidaknya ada enam hal yang biasa melatarbelakangi terjadinya konflik, 1) Kepentingan yang sama diantara beberapa pihak, 2) Perebutan sumber daya, 3) Sumber daya yang terbatas, 4) Kategori atau identitas yang berbeda, 5) Prasangka atau diskriminasi, 6) Ketidakjelasan aturan (ketidakadilan).
            Sementara itu, Sukamdi (2002) menyebutkan bahwa konflik antar etnik di Indonesia terdiri dari tiga sebab utama: (1) konflik muncul karena ada benturan budaya, (2) karena masalah ekonomi-politik, (3) karena kesenjangan ekonomi sehingga timbul kesenjangan sosial. Menurutnya konflik terbuka dengan kelompok etnis lain hanyalah merupakan bentuk perlawanan terhadap struktur ekonomi-politik yang menghimpit mereka sehingga dapat terjadi konflik diantara yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan identitas sosial, dalam hal ini etnik dan budaya khasnya, seringkali menimbulkan etnosentrisme yang kaku, dimana seseorang tidak mampu keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Sikap etnosentrisme yang kaku ini sangat berperan dalam menciptakan konflik karena ketidakmampuan orang-orang untuk memahami perbedaan. Sebagai tambahan, pengidentifikasian kuat seseorang terhadap kelompok cenderung akan menyebabkan seseorang lebih berprasangka, yang akan menjadi konflik.


B. Dampak dari Konflik antar Etnis
Konflik dapat berdampak positif dan juga negatif. Dampak positif dari konflik menurut Ralf  Dahrendorf yaitu perubahan seluruh personel  di dalam posisi dominasi. Kedua, perubahan keseluruhan personel di dalam posisi dominasi dan ketiga, digabungnya kepentingan-kepentingan kelas subordinat dalam kebijaksanaan pihak yang berkuasa. Sedangkan menurut Lewis Coser adalah fungsi konflik yang positif mungkin paling jelas dalam dinamika ingroup versus outgroup. Kekuatan solidaritas internal dan integrasi ingroup bertambah tinggi karena tinggkat permusuhan atau konflik dalam outgroup bertambah besar. Sedangkan dampak negatif dari konflik yaitu keretakkan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok, kerusakkan harta benda benda dan hilangnya nyawa manusia, berubahnya kepribadian para individu, dan munculnya dominasi kelompok pemenang.
Salah satu contoh adalah konflik antara konflik Etnis Aceh dan Jawa, saya akan bahas secara singkat.
Sejarah Singkat Awal Mula konflik Aceh-Jawa
Etnisitis merupakan salah satu unsur yang menjadi objek utama kajian ilmu-ilmu sosial. Dalam sejarah relasai antar etnik di berbagai belahan bumi, selalu diwarnai oleh konflik etnik itu sendiri. Konflik anatar etnik selalu saja mencari akarnya pada persoalan sosial ekonomi dan budaya seperti halnya konflik Aceh. Studi yang dliakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa akar dari semua konflik yang terjadi di Aceh merupakan persoalan ketidakadilan sosial ekonomi dalam proses pemabangunan serta serangkaian tuntutan janji atas hak-hak istimewa yang tidak teralisasi.
Beberapa unsur besar diatas merupakan alasan yang paling logis dibalik catatan perjalanan konflik di Aceh,  Namun disamping hal itu pula, terdapat salah satu bagaian terpenting yang menggoreskan fakta sejarah dibalik konflik serta pergolakan yang terjadi dikemudian hari di Aceh. Yakni kebencian suku bangsa Aceh terhadap suatu etnik tertentu, yakni suku Jawa. Memang hal ini sangat jarang dikaitkan sebagai faktor pemicu munculnya konflik Aceh, dan orang cenderung mengabaikan fakta ini. akan tetapi sejarah telah membuktikannya.
Sejarah awal kebencian orang Aceh terhadap suku Jawa  pertama kali terjadi pada masa kerajaan Aceh dulu. 2ketika kerjaan Samudera Pasai diserang oleh kerjaan Majapahit yang notabene merupakan kerjaan terbesar dipulau Jawa sekitar tahun 750-796 H yang dipimpin oleh panglima Patih Nala Ketika Sultan Zainul Abidin Malik Al Zhahir memimpin. Sejak saat itu genderang perang dinyatakan oleh rakyat Aceh terhadap kerjaan Jawa tersebut. Hal diatas merupakan bagian kecil dari catatan sejarah menegenai hubungan awal antara Aceh dengan Jawa yang ditandai dengan konflik. Meskipun pada periode tahun-tahun berikutnya kedua etnis ini nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik berupa perang dan mulai membangun hubungan melalui bidang penyebaran agama dan perdagangan.
Ketika Belanda melakukan penjajahan di Nusantara, kurang lebih 350 tahun lamanya, Aceh juga berjuang melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda. Bahkan Aceh memiliki andil besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kemudian Hari. Aceh pula lah yang banyak membantu Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari datangnya kembali gangguan Belanda yang ingin menjajah Indonesia. Pada Tahun 1945 setelah Proklamasi Kemeerdekaan Indoensia dikumandangkan Soekarno dan Hatta di Jakarta, tak lama setelah itu pada 15 Oktober 1945 atas nama seluruh masyarakat, Aceh menyatakan diri dengan patuh berdiri dibawah payaung NKRI. Meskipun sebenarnya Aceh dapat berdiri sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat, tetapi, karena rakyat Aceh pada saat itu diliputi oleh semangat Nasionalisme yang tinggi $maka Aceh menyatakan diri menjadi bagaian dari Indonesia.  Kemudian pemerintah Darurat Indonesia langsung mengeluarkan ketetapan mengenai posisi Aceh didalam Republik. Ketetapan itu diberlakukan pad 17 Desember No. 8 / Des/ W.K.P.H yang menetapkan Aceh sebagai sebuah propinsi.

Kejadian yg kedua terjadi konflik antar suku Dayak dengan Madura.
1. Penyebab terjadinya konflik antara suku Dayak dengan Madura
Seperti yang sudah di ulas pada latar belakang di atas bahwasanya konflik yang terjadi antara suku Dayak dengan Madura disebabkan karena ketidak sepahaman juga timbulnya sifat saling ingin menguasai dari slah satu suku tersebut. Timbulnya konflik ini akibat salah satu suku yaitu Madura yang memperlakukan suku Dayak yang melampaui batas kewajaran untuk saling memahami antar suku dengan sifat anarkisnya sehingga timbul adanya konflik dan kontak fisik yang menimbulkan banyak korban jiwa. Semua ini didasari karena salah satu suku Dayak yang dirugikan merasa dilecehkan harga dirinya oleh salah satu suku bangsa Madura. Spontanitas suku dayak yang tidak terima oleh perlakuan dari suku Madura bertindak untuk melawan karena merasa bahwa suku madura bertindak ingin menguasai, dengan bertindak semena-mena dengan melecehkan harga diri Suku Dayak.
Dari contoh nyata di atas terlihat bahwa aroma kekentalan suku suatu bangsa yang dipandang secara sempit, yang menjadi jatidiri suku bangsa telah menjadi pemicu konflik antar suku, yang menjadikan mereka lupa akan jatidiri yang lebih besar yaitu sebagai bangsa Indonesia. Sebagai bangsa kesatuan yang utuh dan kuat tanpa adanya perpecahan dari konflik yang terjadi karena masalah kesalahpahaman antar kebudayaan
2.  Upaya Pemerintah dalm Menanggulangi Konflik Antar Suku Dayak dan Madura
Pemerintah dalam menanggulangi konflik perpecahan suatu suku bangsa harusnya memberikan suatu pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten dan berkesinambungan terhadap para warga suku bangsa di Indonesia terhadap eksistensi Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pemersatu perpecahan karena konflik suatu bangsa.
Pemerintah perlu memberikan suatu pemahaman terhadap kedua belah pihak yang terlibat konflik dengan cara memberikan pengakuan dan pemahaman bahwa mereka kedua belah pihak yang berseteru tersebut adalah suatu suku bangsa yang sederajat, memberikan pemahaman untuk membuat suatu suku bangsa untuk saling memahami dan berupaya untuk mentaati norma norma yang berlaku dikalangan masyarakat. Mengadakan kesediaan bagi kedua belah pihak yang berseteru untuk saling memaafkan, melupakan kejadian yang sudah berlalu dan hidup berdampingan dengan keharmonisan dengan landasan sebagai bangsa yang satu, yaitu sebagai bangsa Indonesia.
Dalam hal ini, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi terjadinya konflik antar suku bangsa, diantaranya :
1.      Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap kebudayaan yang berbeda dengan  kebudayaan kita
2.      Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda
3.      Jika permasalahnnya karena miss communication bisa dengan mengadakan mediasi antar kepala suku atau kepala daerah yang ada di daerah sampit
4.      Pemerintah harus lebih telaten dalam mengurusi masalah-masalah yang ada di sudut-sudut Negara, jangan hanya terpaku pada ibu kota saja
5.      Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam pembuatan peraturan-peraturan agar tidak ada yang merasa di anak tirikan dan merasa tidak di perdulikan oleh pemerintah.
6.      Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu mengurangi konflik yang terjadi antara kelompok minoritas dengan minoritas maupun antara kelompok minoritas dengan mayoritas. Misalnya di adakan manajemen konflik pada suku dayak dan suku Madura yang merupakan kelompok mayoritas, sehingga suku dayak tidak merasa di diskriminasikan.
7.      Diadakannya pendidikan multikultural sebagai pengembangan pola positif masyarakat pada masyarakat sampit dan Madura
8.      Mengenali dan mencintai budaya lain dengan pengenalan budaya seperti misalnya suku Madura di pertunjukan tari-tarian suku dayak agar kedua suku tersebut bisa memiliki simpati satu sama lain.

Addapted by :
http://himasos-unimal.blogspot.com/2013/10/analisiskonflik-etnis-aceh-dan-jawa.html


1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus